AL HADAD
SEPINTAS
ucapkan bismillah ketika memulai sesuatu,
syukur alhamdulillah setelah melakukan aktivitas,
semoga berkah... amin
syukur alhamdulillah setelah melakukan aktivitas,
semoga berkah... amin
Senin, 08 November 2010
Rabu, 13 Oktober 2010
GELONDONG JATI
IDENTITAS BUKU
Judul : Gelondong Jati
Penulis : Sri Purnawati, S.Sos.I
Jenis : Fiksi (novel)
Penerbit : Cakra Media
Tahun Terbit : 2006
Tebal Buku : 80 halaman
Kehidupan di daerah Blora yang panas dan menyengat. Debu-debu putih kapur beterbangan ketika angin bertiup semilir. Orang-orang di daerah ini pun sangat tangguh, seperti kayu jati yang tumbuh di wilayah ini. Bahkan di usia tujuh puluh tahunan jarang sekali ada yang terkena penyakit rematik atau osteoporosis sehingga masih biasa mereka memanggul pupuk kandang ke sawahnya.
Sebuah persahabatan baru antara Febri dan Ronal, mengawali kisah ini. Ronal adalah lelaki remaja yang duduk di bangku kelas 2 SMA. Ia memiliki hobi membaca buku, namun kebiasaan yang melekat pada dirinya yakni tak banyak bicara dan enggan bergaul dengan teman-teman lainnya, lantaran dirinya merasa tidak pantas bergaul dengan mereka termasuk dengan sahabatnya sendiri Febri. Dua minggu, Ronal tinggal di daerah ini, ia seorang anak bungsu dari tiga barsaudara. Bapaknya seorang jutawan dan merupakan orang terkaya di daerah itu, namun kehidupannya cukup dekat dengan para tetangganya. Kepribadian seorang Ronal sangatlah sederhana, namun pribadinya yang sangat tertutup cukup membuat rasa ingin tahu Febri terhadap sesuatu yang disembunyikan Ronal.
Suatu ketika Ronal mengajak Febri pergi ke hutan dengan mengayuh sepeda dan keduanya pun sepakat. Setelah 3 jam bersepeda, Ronal berhenti di sebuah tepi sungai yang tenang dan menyandarkan sepedanya di sebuah batang pohon jati. Lalu, Ronal duduk dibawah pohon jati lain yang lebih besar dan rimbun, dengan Febri yang sambil memperhatikan sekeliling berupa pohon-pohon jati berjajar. Kemudian, mereka berjalan menyusuri hutan hingga menjumpai sebuah sumur minyak, lalu dilanjutkan sampai ke sebuah bangunan besar. Pagar bangunan itu tinggi dan rapat, dan di situlah terdengar keras suara kebisingan mesin yang sebelumnya mereka dengar dari jarak yang cukup jauh. Bangunan itu merupakan bengkel kayu milik Bapaknya Ronal. Febri keheranan ketika mendengar itu karena sesampainya di sana kenapa Ronal hanya berdiri bersandar pagar saja tanpa masuk ke dalamnya, padahal sudah jelas itu bangunan milik Bapaknya. Setelah itu Ronal menceritakan semuanya bahwa bangunan milik Bapaknya itu illegal. Ternyata hal ini yang menjadi penyebab, di mana Ronal malu bergaul dengan teman-temannya. Bapaknya Ronal kaya namun semua itu hasil dari penjarahan hutan. Ia memimpin orang-orang untuk menebangi pohon jati yang sudah tua dan mengolahnya disini. Mereka membawa kayu-kayu itu keluar hutan dalam bentuk mebel untuk dipasarkan. Akhirnya Febri mengerti mengapa Ronal menjaga jarak dengan teman-temannya.
Suatu hari mereka melakukan investigasi sebagai tamu legal. Kemudian Ronal pun menunjukkan gelondong-gelondong jati walaupun penuh dengan rasa malu, karena ia merasa sangat hina hidup dari hasil pencurian seperti itu.
Tahun berganti. Sebuah peristiwa dahsyat terjadi, hujan turun dengan derasnya disertai angin topan dan dentuman dahsyat membuat semua orang kaget dan panik. Tiga jam kemudian, hujan berhenti. Tiba-tiba muncul Lik Kiran dengan wajah tegang, melaporkan bahwa bukit kapur runtuh. Namun, semuanya selamat hanya Bapak yang terluka, kakinya tertimbun kayu. Suasana sangat genting. Kakinya patah dan dibalut gips.
Setelah dua minggu berlalu, Bapak terlihat makin sehat meskipun kakinya masih dibalut gips. Berita runtuhnya bukit kapur itu telah tercium wartawan dan menyebar luas.
Sore hari, dua orang bertubuh tegap seakan menggelapkan tubuh mereka datang. Ronal sangat kaget dan mengaku Bapak tidak bisa ditemui sebab sakit. Namun mereka bersikeras untuk bisa menemui bapak. Ronal menolak dan berakhir, mereka mengeluarkan sepucuk surat penangkapan bapak. Tak dapat terelakkan eksekusi pun dilakukan walau jerit histeris keluarga menyertai Bapak menuju ke kantor Polisi. Akhirnya pun Ronal hanya bisa menemani sang Bapak. Mereka berhadapan dengan hukum. Setelah melewati berbagai proses, persidangan dimulai. Jaksa mengajukan pasal-pasal pencurian aset negara dan menuntut pidana kurungan juga denda. Hakim memutuskan hukuman 5 tahun penjara dan membayar denda satu miliar. Ronal dan keluarganya meneteskan air mata.
Tak lama setelah kejadian itu Ibu meninggal dunia. Ronal Sangat terpukul atas kematian Ibunya. Ia menangis di depan jasad Ibunya. Ronal teringat ketika dimanjakan Ibunya dan kenangan-kenangan bersama ibu.
Kini, Ronal betul-betul menghadapi berbagai persoalan hidup yang membuatnya berpikir dewasa dan bersikap bijak. Satu hal yang tak pernah berhenti mendorongnya untuk terus maju yaitu persahabatannya yang singkat namun mendalam dengan Febri dan kata-kata pembangkit semangat yang dilontarkan Febri kepadanya. Ronal pun berjuang mewujudkan gagasannya dengan kerja keras dan keteguhan hati.
sekian
UNSUR INTRINSIK
Tema : Keteguhan hati seorang anak pengusaha kayu ilegal
Penokohan :
1. Febri = Mudah bergaul, suka bercanda, ramah, dan memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi.
2. Ronal = Misterius, tertutup, pendiam, malu bergaul, tabah, baik hati,
pekerja keras dan tidak sombong.
3. Bapak Ronal = Ramah, suka menolong, tidak sombong, dan tabah.
4. Ibu Ronal = Penyayang, selalu memanjakan, tegar, dan ramah.
5. Pardi = Baik hati, suka menolong teman.
6. Lik Kiran = Gugup, pekerja keras.
Alur : Maju
Latar/settimg : malam hari di Hutan Jati, Rumah Ronal, Bukit kapur, siang hari di tepi sungai
hutan jati, lapangan.
Sudut pandang : Orang ketiga
Amanat :
1. Janganlah sombong dengan segala sesuatu yang kita punya.
2. Bekerjalah dengan benar dan ilegal sehingga tidak merugikan orang lain.
3. Selalu bersyukur kepada Tuhan YME.
Senin, 11 Oktober 2010
BERSAMA KITA
Hidup berseri nan sejuk,
Mentari bergetar menyambut bumi,
Tangan melambai melampaui hati,
Hidup...
Jiwa yang lengah melewati mimpi,
Bertemu kisah sahabat antara kita,
Terpaku,termenung meninggalkan sepi,
Wahai angin dan embun,
Gerakkan rumput bergoyang di malam hari,
Tuk menggapai arti sahabat sejati
Sabtu, 09 Oktober 2010
PAGI
Secerah fajar indah dihati,
naungan kalbu bertatap sepi,
kicau burung diujung daun,
mengundang sejuta umat,
tuk bersyukur pada kesempatan,
di hidupkan kembali manusia,
di waktu pagi,
ALLAHU ROBBI,
Senin, 04 Oktober 2010
Langganan:
Komentar (Atom)